Connect with us

Seperti Tak Tersentuh Negara, PT. WKS Terus Gusur Tanah Petani Tebo

Nasional

Seperti Tak Tersentuh Negara, PT. WKS Terus Gusur Tanah Petani Tebo

SNNJAMBI.COM – Berikut Pernyataan Sikap Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) terkait tindakan – tindakan PT. WKS terhadap petani di Kabupaten Tebo, Jakarta 29 September 2020.

Dengan alasan pandemi Covid-19, peringatan Hari Tani Nasional 2020 dan 60 tahun kelahiran Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) di berbagai daerah direpresif oleh aparat keamanan. Sementara, perusahaan-perusahaan yang secara brutal menggusur tanah-tanah petani terus dibiarkan. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat, sejak Maret-September telah terjadi 37 letusan konflik agraria di berbagai wilayah di Indonesia. Ironinya, di berbagai peristiwa penggusuran tersebut, aparat keamanan turut membengkingi perusahaan perampas tanah-tanah petani. Akibatnya, 39 orang petani dikriminalisasi dan dianiaya, serta dua orang tewas.

Sehari pasca HTN, PT. Wira Karya Sakti (WKS), anak perusahaan Sinar Mas Group, kembali berulah. Mereka menggusur tanah petani Serikat Tani Tebo (STT) di Desa Lubuk Mandarsah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi. Selama dua hari, sejak Sabtu, 26 September 2020 hingga Minggu, 27 September 2020, pihak perusahaan terus melakukan penggusuran tanah-tanah petani. Saat penggusuran berlangsung, Ketua STT, Martamis menemui Pohan, perwakilan perusahaan, meminta agar penggusuran dihentikan. Alih-alih mengikuti, pihak perusahaan terus menyuruh operator melakukan penggusuran kebun-kebun petani.

Hal ini patut disayangkan, pasalnya pada tanggal 19 September 2020, PT. WKS telah menyetujui kesepakatan dengan petani agar menghentikan penggusuran terhitung sejak 20 September 2020.

Sementara, para petani Desa Lubuk Mandarsah, Tebo, termasuk perempuan petani, Nyai Swin, Nyai Yusma bersama perempuan lainnya menghadang alat berat yang hendak melakukan penggusuran.

Dalam salah satu rekaman kejadian, terlihat pihak perusahaan terus membujuk dan mamaksa Nyai Yusma, Ketua Kelompok Tani Lubuk Mandarasah agar petani mau bermitra dengan PT. WKS.

Nyai Yusma secara tegas menolak, “Kami tidak mau bermitra, dari dulu kami digusur, durian, duku, karet yang kami tanam di lahan ini habis digusur WKS, kami masyarakat garap sendiri, tapi perusahaan gusur. Saya ini tidak ada suami sampai terkilir kaki saya buka lahan untuk berkebun. Anak saya tidak sekolah gara-gara digusur PT WKS. Tanah ini peninggalan moyang kami durian, duku sekarang habis digusur. Pokoknya kami tidak mau bermitra dengan PT. Ini tanah kami, punya masyarakat, haknya rakyat.”

Tindakan-tindakan penggusuran dan intimidasi yang dilakukan oleh PT. WKS seakan tidak tersentuh Negara. Pemerintah tidak pernah menyikapi secara serius proses penyelesaian konflik antara petani dengan pihak perusahaan yang telah terjadi sejak 2006 ini. Janji reforma agraria dari klaim kawasan hutan negara mangkrak. Padahal, dalam rentang waktu di atas, sudah banyak jatuh korban di pihak petani. Bahkan di masa pandemi saja, PT. WKS telah tiga kali melakukan penggusuran dan intimidasi kepada petani.

Tahun 2007, Sukamto tewas saat menghadang alat berat yang akan menggusur tanaman padi yang akan memasuki masa panen. Setahun berselang, 9 orang petani dikriminalisasi dan dijatuhi hukuman 15 bulan penjara. Tiga tahun berikutnya, PT. WKS kembali mengkriminalisasi satu orang petani, yakni Karyono Setio.

Terakhir, Indra Pelani tewas pada 2015, ia dibunuh oleh security perusahaan saat para petani melakukan panen raya pada tanggal 27 Februari 2015. Indra Pelani tewas saat melakukan persiapan panen raya, dihadang dan diculik hingga ditemukan tewas keesokan harinya.

PT. WKS – Sinar Mas Grup adalah contoh perampas dan pelaku monopoli tanah di Indonesia, pelanggar Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Sayangnya pemerintah seakan melegitimasi praktek-praktek tersebut. Konflik-konflik tersebut didominasi oleh konflik di sektor perkebunan dan kehutanan. Luasan konsesi HTI PT. WKS di Provinsi Jambi mencapai 290 ribu hektar lebih. Dalam catatan KPA, dari luas 24 konflik agraria yang saat ini terjadi di Jambi, sebagian besarnya disebabkan oleh penguasaan PT. WKS. Pihak perusahaan merampas 14.286 hektar tanah dari 3.446 KK petani di 15 desa dan lima kabupaten, yakni Batanghari, Tebo, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Korban tidak hanya berjatuhan di Lubuk Mandarsah, di Desa Senyerang, Tanjung Jabung Barat, Ahmad Adam, salah seorang petani tewas pada tahun 2010 silam karna berkonflik dengan perusahaan.

Sikap diam pemerintah terhadap rentetan peristiwa di atas jelas kontraproduktif dengan janji reforma agraria. Alih-alih menyelesaikan konflik dan meredistribusi tanah untuk rakyat, di lapangan korporasi-korporasi besar terus leluasa melakukan penggusuran. Perampasan yang dilakukan PT. WKS juga indikasi bahwa negara telah kalah dengan korporasi besar. Pasalnya, satu orang petani yang digusur telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM), dari 6 orang yang sudah mendapatkannya sejak 2018.

Atas situasi di atas, KPA mengutuk keras penggusuran yang dilakukan oleh PT. WKS. Menuntut Presiden, Kapolri, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera:

  1. Menghentikan langkah-langkah kontraproduktif yang dilakukan PT. WKS di lapangan;
  2. Mengevaluasi dan cabut izin PT. WKS untuk dijadiikan objek Reforma Agraria bagi petani Tebo
  3. Segera merealisasikan reforma agraria, tanah untuk petani dan buruh tani/kebun di Jambi.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan, agar dapat dipahami oleh semuah pihak

Jakarta, 29 September 2020
Konsorsium Pembaruan Agraria
Dewi Kartika
Sekretaris Jenderal

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Nasional

Advertisement

Trending

Advertisement
To Top