PMP Jakarta Raya Gelar Diskusi Dengan TNI dan Polri

SNNJAMBI.COM Perhimpunan Mahasiswa Jakarta Raya (PMP – Jakarta Raya) menggelar diskusi Virtual Melalui Apk Zoom dengan tema “Refleksi Akhir Tahun” Sinergisitas TNI-Polri Dalam Menjaga Keamanan dan Ketahanan NKRI Dari Ancaman Radikalisme Ditengah Masa Pandemik COVID-19, Kamis (10/12/20).

Diskusi tersebut diisi oleh dua orang Narasumber Atau Pemantik yakni Akmal Fahmi Ketua Bidang PB Hmi dan Aster Kasdam Jaya, Kolonel Infanteri Uyat.

Akmal Fahmi menyampaikan mahasiswa Atau OKP dalam hal ini Dia menyadari bahwa idealisme mahasiswa memang sangat tinggi, akan tetapi, jangan sampai ditengah proses pencarian jati diri itu justru keliru jalan. “Sehingga hal inilah yang menjadikan mereka terjerumus ke faham yang salah”, paparnya.

Fanatisme terhadap suatu pemikiran masih dapat dibenarkan selama tidak mengganggu ketertiban orang lain. Sedangkan sikap Individual yang dimunculkan oleh kelompok Radikal ini adalah Fanatik buta, lanjutnya

Dalam mmentum-momentum gerakan aksi mahasiswa secara nasional diharapkan mampu membendung ataupun menjadi tameng utama agar faham ataupun tindakan radikalisme dan vandalisme bisa di hilangkan dalam gerakan-gerakan demonstrasi mahasiswa di tahun 2020 dan tahun-tahun berikutnya, ungkapnya

Isu omnibus law sudah menjadi PR, OKP dan Pemuda Untuk menjaga stikma yang beredar dan membendung agar tidak lahirnya pemuluk faham-faham radikal yg baru. Peran OKP Dan Mahasiswa dalam Ruang Akademisi sangat diperlukan dalam menjaga ataupun menangkis lahirnya dokmatis yang kolot dan berujung kepada perpecahan, ujarnya

Aster Kasdam Jaya, Kolonel Infanteri Uyat dalam materinya menyampaikan dalam konteks Indonesia, aksi terorisme yang terjadi di Indonesia memiliki keterkaitan ideologis, sejarah, dan politis serta merupakan bagian dari pengaruh lingkungan strategis pada tataran global maupun
regional. Kendatipun aksi terorisme Atau Tindakan Anarkis yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini kebanyakan dilakukan oleh orang Indonesia dan hanya beberapa orang sebagai aktor intelektual dari luar negeri (ISIS), terangnya

Namun tidak dapat dibantah bahwa aksi terorisme saat ini merupakan
suatu gabungan antara pelaku domestik dengan mereka yang memiliki jaringan transnasional. maka tidak berarti kekuatan militer dan intelijen tidak dilibatkan, semua terlibat namun dilaksanakan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, ujarnya

Dalam strategi ini maka terorisme dianggap sebagai kejahatan yang luar biasa dan pelakunya dipandang sebagai pelanggar kejahatan kemanusiaan yang merupakan bagian dari pejuang gerakan kelompok radikal tersebut. Dalam hal ini sinergisitas TNI-Polri dan Badan-Badan Lainnya diharapkan mampu melakukan deteksi dini terhadap perkembangan gerakan radikalisme di Indonesia, harapnya

Tahun 2020 di masa Pandemik Covid-19, yang mana sudah banyak bermunculan isu-isu atau gerakan-gerakan yang mengatas namakan agama dan gerakan-gerakan perlawanan faham – faham Komunisme, diharapkan masyarakat, Tokoh Agama, ataupun pemuda bersama TNI-Polri mampu membendung gerakan-gerakan radikalisme yang akan lahir, ungkapnya

Kemudian Closing statment PMP-Jakarta Raya “dipenghujung tahun 2020 kami berharap Sinergisitas dari seluruh kelompok elemen-elemen kelembagaan manapun mampu mengfokuskan diri untuk melawan perkembangan gerakan-gerakan radikal yang dilakukan oleh kelompok dengan tujuang untuk melakukan perpecahan antar etnis/suku, pungkasnya. (“)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *